√ Pengertian Sosial Menurut Para Ahli dan Definisinya -->

Advertisement

Pengertian Sosial Menurut Para Ahli dan Definisinya

Kamis, 29 November 2018

Ad1

Ad2


Pengertian Sosial Menurut Para Ahli dan Definisi  masyarakat

PEMUDABERSATU.COM - Kita tidak dapat membayangkan, bagaimana kehidupan manusia jika tidak berada dalam masyarakat sosial. Sebab semua individu-individu tidak dapat hidup dalam keterpencilan selama-lamanya. Manusia membutuhkan satu sama lain untuk hidup dan bertahan hidup. Kesalingtergantungan ini menghasilkan bentuk kerja sama tertentu yang bersifat ajeg dan menghasilkan bentuk masyarakat tertentu, sebuah keniscayaan. Dengan demikian, manusia adalah makluk sosial. Maka untuk artikel kali ini akan saya bahas mengenai pengertian sosial.

Pengertian Sosial Menurut Para Ahli


Pengertian Sosial Menurut Para Ahli

Secara keilmuan, terdapat banyak teori sosial masyarakat. Konsep kita mengenai masyarakat dan sosialpun mendasar bagi pemahaman diri kita sendiri. Sebagai contoh sosial, apakah masyarakat tempat kita hidup ini merupakan sebuah kebersamaan yang penting membantu kita untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi tertentu, seperti jaminan material sebagaimana dikemukakan oleh Thomas Hobbes? ataukah ada kenyataan sosial yang lebih mendasar yang masuk kedalam hakikat sosial kita yang terdalam sebagai manusia, sebagimana dikatakan oleh Karl Marx dan Emile Durkheim bagi kita.

DEFINISI SOSIAL


Definisi sosial tentang Istilah sosial dalam ilmu sosial memiliki arti yang berbeda-beda, misalnya istilah sosial dalam sosialisme dengan istilah Departemen Sosial, jelas kedua-duanya menunjukkan makna yang sangat jauh berbeda. Menurut Soekanto (1986 : 11), apabila istilah sosial pada ilmu sosial menunjukan pada objeknya, yaitu masyarakat, sosialisme adalah suatu ideologi yang berpokok pada prinsip pemilikan umum atas alat-alat produksi dan jasa-jasa dalam bidang ekonomi. Sedangkan istilah sosial para Departemen Sosial, menunjukkan pada kegiatan-kegiatan dilapangan sosial. Artinya, kegiatan-kegiatan yang ditunjukan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dalam bidang kesejahteraan, seperti tuna karya, tuna susila, anak yatim dan lain-lain.

Selain itu, Soekanto (1993:464) mengemukakan bahwa istilah sosial pun berkenan dengan perilaku interpersonal atau yang berkaitan dengan proses-proses sosial. Secara keilmuan, masyarakat sebagai objek kajian ilmu-ilmu sosial, dapat dilihat sebagai sesuatu yang terdiri atas beberapa segi. Dilihat dari segi ilmu ekonomi, akan bersangkut-paut dengan faktor produksi, distribusi, pengunaan barang dan jasa. Sedangkan dari segi ilmu politik antara lain berhubungan dengan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat. Berbeda dengan psikologi sosial, yang pada hakikat psikologi sosial mempelajari perilaku manusia sebagai invidu secara sosial.


Masyarakat ialah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari  pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial dan masyarakat selalu berubah-ubah.

Sedangkan yang merupakan bentuk umum sosial dalam proses-proses sosial adalah interaksi sosial, bahkan beberapa ahli sosiologi berpendapaat bahwa interaksi sosial tersebut merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Bentuk lain dari proses-proses sosial adalah merupakan bentuk-bentuk khusus dari sebuah interaksi sosial. Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan secara perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara perorangan dengan manusia.

Menurut Soekanto (1986:52), keberlangsungan suatu proses sosial disebabkan beberapa faktor sosial antara lain melalui imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Faktor-faktor sosial tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan yang bergabung. Apabila masing-masing ditinjau secara lebih mendalam maka :

1. faktor Imitasi
Mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi sosial tersebut. Sebab salah satu peran positifnya adalah proses imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematui kaidah-kaidah sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.

2. faktor Sugesti
faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberikan suatu pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain secara emosi. Bisa terjadi karena yang mempengaruhinya adalah orang yang berwibawa atau otoriter.

3. Faktor Idetifikasi.
Merupakan kecenderungan-kecenderungan ataupun keingan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi identik atau sama dengan orang lain.

4. Faktor Simpati.
Sebenarnya merupakan suatu proses yang disebabkan oleh ketertarikan seseorang oleh pihak lain, baik itu hanya sebatas kerja sama, merasa senanf dan tertarik karena faktor-faktor tertentu yang menyebabkan ia patut dikagumi.

Tentu saja terjadinya interaksi sosialpun memiliki beberapa syarat minimal yaitu adanya kontak sosial dan adanya sosial komunikasi. Sebab melalui adanya kontak sosial dan komunikasi tersebut tidak sekadar tergantung dari tindakan, melainkan juga adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut, baik bersifat negatif maupun positif.