√ Berfikir Positif Menjadi Penangkal Virus Corona Covid 19 Terbaik - Pungkas Ahli Kesehatan Mental Brawijaya -->

Advertisement

Berfikir Positif Menjadi Penangkal Virus Corona Covid 19 Terbaik - Pungkas Ahli Kesehatan Mental Brawijaya

Senin, 30 Maret 2020

Ad1

Ad2

Berfikir Positif Menjadi Penangkal Virus Corona Covid 19 Terbaik - Pungkas Ahli Kesehatan Mental Brawijaya

Berfikir Positif Menjadi Penangkal Virus Corona Covid 19 Terbaik - Terdapat berbagai cara yang bisa dilakukan agar kita tidak mudah terpapar virus corona yang menjadi penyebab COVID-19. Mungkin kita sering mendengar imbauan bahwa jika kita rajin cuci tangan, menggunakan masker hingga menghindari tempat keramian dapat menjadi solusi jitu untuk penangkal virus corona.

Namun dengan meluasnya penyebaran virus corona itulah dapat menimbulkan kecemasan tersendiri, padahal dengan rasa kekhawatiran berlebih itu dapat berakibat sistem kekebalan tubuh menurun. Tentu jika Imunitas yang menurun, sangat renta terinfeksi.

Seperti yang telah di ungkapkan oleh Ahli Kesehatan Mental Universitas Brawijaya Malang yang bernama Dokter Lestari. Beliau menjelaskan bahwa rasa bahagia dan selalu berpikir positif merupakan kunci terbaik untuk menangkal dan mencegah seseorang terpapar virus corona. Tentu hal itu juga harus di barengi dengan mengonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang, olahraga yang teratur dan menjaga kebersihan.

Menurut pakar yang memiliki gelar Dokter tersebut, jika sesorang merasa bahagian, maka secara otomatis tubuh akan mengeluarkan interferon-protein yang berfungsi untuk membentuk imunitas dan melawan virus yang hendak menyerang.

Agar kita dapat memunculkan rasa bahagia di tengah situasi pademi COVID-19 ialah dengan bersyukur dan mengurangi membaca berita yang menakutkan, mulai dari menambahnya orang yang terinfeksi virus corona hingga orang yang meninggal.

Perlu diketahui kunci kebahagian itu akan mucul pada diri, apabila kita bisa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh ALLAH SWT.

Dengan kita bersyukur tentu akan membuat hidup kita merasa nyaman, tenang, damai dan bahagia.

Rasa bahagia di dalam diri manusia juga dapat disebabkan faktor social distancing, mengingat manusia merupakan mahkluk sosial yang butuh berinteraksi, bersosialisasi, dan berkumpul, sehingga dengan adanya pembatasan interaksi saat ini yang sudah digalakkan, tentu dapat membuat sesorang merasa kesepian dan perubahan mood yang sangat drastis.

Bahkan hal tersebut juga berpengaruh pada hormon oksitosan yang berdampak pada tingkah laku seseorang.

Sumi Lestari juga menyarankan  agar masyarakat lebih bijak didalam memilih sumber informasi agar tidak timbul kekhawatiran yang mendalam.

Banyak-banyak mengkonsumi makanan dengan gizi yang seimbang serta minum vitamin C agar dapat menjaga Imunitas tubuh dan tidak lupa berdoa.