√ Teori Dasar Penghitungan Upah Tenaga Kerja Karyawan -->

Advertisement

Teori Dasar Penghitungan Upah Tenaga Kerja Karyawan

Senin, 31 Desember 2018

Ad1

Ad2

Teori Dasar Penghitungan Upah Tenaga Kerja Karyawan

PEMUDABERSATU.COM - Teori Dasar Penghitungan Upah Tenaga Kerja .Ketika bisnis anda sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan, tentunya anda juga harus mempersiapkan tenaga kerja yang dapat membantu mengelola bisnis / usaha. Menjadi single fighter di dalam mengelola usaha yang mulai berkembang justru akan membuat para pelaku usaha tidak dapat fokus. Sebab harus menangani bermacam-macam hal di saat yang nyaris bersamaan. Maka dari itu harus merekrut dan memperkerjakan pegawai adalah solusinya, agar usaha semakin berkembang.

Akan tetapi untuk merekrut pegawai, tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Mencari pengawai yang amanah, terampil, dan mempunyai passion terhadap apa yang dikerjakan bagaikan mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami. Belum lagi urusan menentukan target pasar baru, agar target omset penjualan tercapai serta menentukan upah tenaga kerja yang layak untuk diberikan kepada mereka.

Hal terakhir itulah yang paling sensitif serta menjadi pertimbangan utama bagi pengusaha sebelum merekrut pegawai untuk dikerjakan di perusahaannya. Jangan sampai anda memberikan sebuah gaji yang tidak sesuai dengan  pengalaman yang dimiliki pegawai atau skil. Apabila hal itu terjadi, maka akan membuat pegawai merasa tidak dihargai dan lebih parahnya mereka memilih keluar dari perusahaan anda. Maka dari itu mencari pegawai harus mengetahui dasar penghitungan upah tenaga kerja.

Artikel Terkait: Cara Meningkatkan Omset Penjualan Online

Cara Menentukan Upah Tenaga Kerja


Cara Menentukan Upah Tenaga Kerja

Apa saja yang dapat digunakan sebagai dasar menentukan upah tenaga kerja? Berikut ini ialah 3 teori cara menentukan upah tenaga kerja yang bisa jadikan acuan di dalam menentukan upah pegawai:

1. Teori Pasar


Teori Pasar

Penghitungan upah tenaga kerja perlu menggunakan konsep seperti ini yaitu menentukan upah berdasarkan hasil negosiasi antara karyawan sebagai si penjual jasa tenaga sedangkan perusahaan yang bertindak sebagai pembeli jasa. Maka tingkat upah yang akan diterima oleh para kandidat pekerja ditentukan oleh bargain power dari para calon pekerja.

Sebagai contoh, anda akan merekrut tenaga finance. Dan Calon karyawan meminta gaji sebesar Rp. 4.500.000,-.per bulan. Sementara anggaran perusahaan hanya sebesar Rp. 3.500.000,- per bulan. Setelah proses tawar-menawar antara anda selaku direktur perusahaan dengan calon karyawan, maka disepakati gaji yang akan diterima sebesar Rp. 3.650.000,-. Di sini lah perusahaan menentukan upah dengan menggunakan teori pasar.

2. Teori Standar Hidup


Teori Standar Hidup

Berdasarkan teori standar hidup ini, anda diharuskan memberikan upah pekerja agar dapat hidup dengan layak. Selain anda memberikan upah yang layak kepada si karyawan, anda juga wajib menyediakan berbagai tunjangan seperti pendidikan, asuransi kesehatan, atau perumahan. Dengan fasilitas yang bisa dibilang spesial ini tentu saja para karyawan dituntut harus memiliki skill dan ketrampilan dengan kategori excellent. Kebanyakan hanya perusahaan-perusahaan PMA dengan skala besar yang mampu/dapat menerapkan teori ini. Penentuan gaji dengan teori standar hidup ini harus menghitung masing-masing item yang akan menjadi standar hidup para calon karyawan.

Artikel Terkait : 7 Cara Mudah Untuk Mencapai Target Omset Bulan Depan

Sebagai Contoh: anda mempunyai pabrik mainan anak dengan omset yang mencapai ratusan juta per bulan. Suatu ketika anda ingin membuat produk mainan edukasi yang belum ada di pasaran. Anda telah memutuskan untuk merekrut lulusan S1 dengan jurusan Desain Produk yang dapat mendesain mainan yang anda inginkan. Maka dari itu anda tinggal menghitung komponen kelayakan hidupnya.

– Gaji pokok              : Rp. 2.750.000
– Tunjangan jabatan  : Rp. 300.000
– Uang makan             : Rp. 390.000 (Rp.15.000 x 26 hari)
– Transport                  :Rp. 260.000 (Rp. 10.000 x 26 hari)
– Uang Pulsa               : Rp. 150.000
– Kesehatan                : Rp. 300.000
Jadi total gaji yang harus anda berikan kepada karyawan adalah Rp. 4.150.000,-.

3. Teori Kemampuan Untuk Membayar


Teori Kemampuan Untuk Membayar

Teori kemampuan untuk membayar ialah merujuk kepada kemampuan usaha di dalam memberikan upah. Besar kecilnya upah karywan berdasarkan dari laba perusahaan. Maka, apabila sebuah usaha mendapatkan keuntungan yang besar, maka karyawan anda juga harus menerima tambahan upah dari keuntungan perusahaan tersebut.

Sebagai contoh: Apabila anda memiliki 4 karyawan yang terdiri dari 1 orang supervisor, 1 orng admin, 1 orang sales, dan 1 orang office boy. Maka bila ada kenaikan laba bersih usaha sebesar 40 jt, anda  harus menyisihkan 5% sebagai tambahan upah pegawai, besarnya ialah : Rp. 40.000.000,- x 5% = Rp. 2.000.000,-. Jadi besar gaji yang diterima masing-masing pegawai ialah:

Gaji Supervisor     : Rp. 3.000.000,-
Gaji Sales              : Rp. 2.500.000,-
Gaji Admin           : Rp. 1.500.000,-
Gaji Office Boy     : Rp. 1.200.000,-
Dari perhitungan 5% jadi masing-masing karyawan akan memperoleh presentase :

Supervisor : 40%
Sales : 30%
Admin : 20%
Office Boy : 10%
Total gaji yang diterima karyawan di saat perusahaan mencapai laba bersih ialah:

Total Gaji Supervisor : Rp. 3.000.000, + (40% x Rp. 2.000.000,) = Rp. 3.800.000,-
Total Gaji Sales : Rp. 2.500.000,- + (30% x Rp. 2.000.000,-) = Rp. 3.100.000,-
Total Gaji Admin : Rp. 1.500.000,- + (20% x Rp. 2.000.000,-) = Rp.1.900.000,-
Total Gaji Office Boy : Rp. 1.200.000,- + (10% x Rp. 2.000.000,-) = Rp. 1.400.000,-

Dari 3 teori dasar penghitungan upah tenaga kerja yang telah di uraikan diatas, maka anda bisa menentukan teori mana yang sesuai dengan usaha yang anda miliki . Yang harus anda diingat ialah upah yang diberikan kepada pegawai haruslah tidak ada pihak yang merasa dirugikan (win-win solution).