√ Tata Cara Pelaksanaan Mujahadah Usbu'iyah Yang Benar -->

Advertisement

Tata Cara Pelaksanaan Mujahadah Usbu'iyah Yang Benar

Senin, 27 Mei 2019

Ad1

Ad2

fafirru ilallah - cara pelaksanaan mujahadah usbu'iyah

Mujahadah Usbu'iyah merupakan mujahadah berjamaah setiap seminggu sekali, yang dilakukan oleh pengamal Wahidiyah sedesa, kelurahan maupun lingkungan.

Bagi pengamal Wahidiyah yang benar-benar terhalang oleh udzur dan tidak bisa menghadiri tempat Usbu'iyah tetap dapat melaksanakan Mujahadah Usbu'iyah di tempat lain (rumah) dengan bilangan 7-17 dengan niat Makmun.

Cara Pelaksanaan Mujahadah Usbu'iyah


Apabila disuatu Dusun, Lingkungan maupun komunitas yang sudah ada pengamal wahidiyah, dianjurkan untuk membentuk jamaah usbu'iyah yang di pimpin oleh seorang Imam jama'ah.

Jika keadaan sudah memungkinkan, yang dalam artian didalam satu dusun atau komunitas terdapat banyak pengamal, supaya diadakan sendiri-sendiri, seperti"

  • Mujahadah Usbu'iyah Kaum Bapak
  • Mujahadah Usbu'iyah Kaum Ibu
  • Mujahadah Usbu'iyah Kaum Remaja dan
  • Mujahadah Usbu'iyah Kaum Kanak-kanak.

Namun jika belum memungkinkan maka usahakan seluruh pengamal se dusun/ sekampung baik dari kaum bapak, ibu, remaja dan kanak-kanak untuk aktif mengikuti Mujahadah Usbuiyah bersama-sama.

1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Mujahadah Usbu'iyah


Nah untuk tempat pelaksanaan, bisa menetap di satu tempat, namun diajurkan untuk melaksanakan Mujahadah Usbu'iyah berpindah tempat dari rumah ke rumah.

Dan untuk hari dan waktu pelaksanaan Mujadahah ditetapkan dari kesepakatan jama'ah tersebut. Yang dalam artian sesuai kesepakatan bersama.

2. Persiapan dan Pelaksanaan Mujahadah Usbu'iyah


Sebelum melakukan pelaksanaan mujahadah supaya diadakan persiapan lahir batin sebaik-baiknya terlebih dahulu. Seperti melaksanakan Mujahadah khusus penyosongan, petugas, pengaturan tempat dan lain sebagainya.

Selain itu disaat ingin menuju tempat Usbu'iyah dianjurkan untuk bersama-sama dengan teman lain.

Adapun urutan acara di dalam Mujahadah Usbu'iyah, antara lain:

  • Tasyaffu' dan Istighotsah
  • Mujahadah bilangan 7-17
  • Tambahan acara sesuai keperluan
  • Penutup atau nidak.

Dan perlu diingat bahwa Mujahadah Usbu'iyah tidak harus menghadap ke arah kiblat (namun tidak di larang).

Lazimnya bermuwajahah (saling berhadapan) dan Insya Allah cara ini akan banyak sekali manfaatnya seperti batiniyahnya saling menyinari antara satu dengan yang lainnya.

Mujahadah berjamaah yang menghadap ke arah kiblat pada umumnya dilaksanakan sehabis sholat maktubah atau sholat sunah / bila ada suatu kepentingan. Namun jika Mujahadah perorangan lebih utama jika menghadap ke arah kiblat.

Jamaah yang sudah hadir lebih awal diacara mujahadah Usbu;iyah, sebaiknya tasyafu'an terlebih dahulu sembari menunggu kehadiran lainnya.

Jika diwaktu pelaksanaan mujahadah menggunakan pengeras suara di mohon jangan memonopoli oleh satu dua suara saja, agar semua suara yang serempak dan seragam terkecuali untuk memberikan aba-aba.

Lagu tasyafuu' harus seragam mengikuti tuntutan yang telah diberikan oleh Hadlrotul Mukarrom Mualiff Sholawat Wahidiyah dan tidak boleh membuat ghoyah atau variasi sendiri.

Ketika Mujahadah akan dimulai, tasyafu'an diakhiri dengan membaca Al-Faatihah satu kali atau dengan membaca Yaa Sayyidi Yaa Rosuulalloh tiga kali, lalu diteruskan Yaa Ayyuhal Ghouts...... satu kali kemudian ditutup dengan Al-Faatihah.

Selanjutnya Imam Jama'ah ataupun siapa saja yang ditugasi untuk memberitahukan dan mengajak hadirin hadirot untuk segera memulai Mujahadah yang telah ditunjuk. 

3. Aurod Mujahadah Usbu'iyah


Aurod / bacaan Mujahadah Usbu'iyah  dengan menggunakan bilangan 7-17, keculai jika ada ketentuan dari DPP PSW.

Ketika bersamaan dengan mujahadah pengamalan 40 hari dan kondisi memungkinkan kedua-duanya supaya tetap dilaksanakan bergantian. Yakni Mujahadah 40 harian dan mujahadah bilangan 7-17 untuk Usbu'iyah.

Namun jika tidak memungkinkan, mujahadahnya menggunakan bilangan 40 harian dengan ditambahin niar usbu'iyah.

4. Imam Mujahadah Usbu'iyah


Imam Mujahadah Usbu'iyah diharapkan untuk bergantian dari pengamal wahidiyah sejama'anya baik itu pria, wanita, remaja maupun kanak-kanak.

Bagi Imam Mujahadah usbu'iyah hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:

  • Melakukan persiapan terlebih dahulu, betul-betul merendahkan hati, merasa penuh dosa, dholim, merasa hina dan tak berdaya serta benar-benar membutuhkan maghfiroh. taufig, hidayah, inayah, syafa'at. tarbiyah dan nadhroh (perasaan ini tidak diucapkan secara lisan namun dihayati dalam hati.

  • Ketika hendak memulai mengimami, konsentrasikan diri sekuat-kuatnya kepada Alloh Wa Rosulihi, wa ghoutsu Hadzaz zaman dengan Lilah Bilah, Lirrosul-Birrosul, Lilghouts-Bilghouts dan Istihdlor (Merasa dihadapat junjungan Kita Rosululloh) sepenuh ta'dhim (memuliakan) dan  mahabbah (mencintai) semurni-murninya.

  • Mengucapkan SALAM dengan menghayati maknanya kemudian membaca BASMALAH dan dilanjut dengan membaca Khutbah Iftitah ala Wahidiyah jika memungkinkan.

  • Imam Mujahadah Usbu'iyah tidak perlu memberikan banyak pengantar. Cukup dengan mengajak jamaahnya beradap lahir dan batin sebaik-baiknya. Dengan menerapkan "Lillah-Billah, Lirrosul-Birrosul, Lil Ghouts-Bil Ghouts" tadzallul, inkisar (merasa hina dina) dan Istihdlor (merasa dihadapan Rosululloh , Wa Ghoutsu Hadzaz zaman). Memohon dan memohonkan bagi keluargam bangsa dan negara, para pemimpin dan seluruh umat manusia, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, bahkan memohonkan bagi segala makhluk, tertuma perjuangan Fafirruu Ilalloh Wa Rosuylihi.

  • Bacaan Ilaa Hadlroti.... "tidak dibaca keras, cukup dibaca dengan sirri. Siapa saja yang duhadiahi dalam mujahadah bisa diperluas, Namun di dalam bathin saja, tentang siapa saja yang diberi hadiah, kita makmum kepada yang dihadiahi oleh Al Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah. Kemudian langsung mengucapkan AL-Fatihah dan memberi komando setiap kali baca Al-Fatihah. Bacaan Fatihah bagi imam jangan bersuara keras namun cukup di dengar sendiri dan jangan terlalu cepat.

  • Setelah selesai membaca Al-Fatihah. langsung membaca ALLOHUMA YA WAAHIDU... dan seterusnya tanpa BISMILLAHIR ROHMAANIR ROHIM.

  • Gaya, lagu dan bacaan dalam mujahadah supaya berusaha meniru yang dibimbing oleh Muallif Sholawat Wahidiyah.

  • Sebelum salam ucapkan kalimat WAAMINARROSUL DAN WAMIR ROSUULOLLAH atau WAMINAL-GHOUTSI DAN WAMIN GHOUTSI HAADZAZ-ZAMAAN.

5. Tambahan Acara


Apabila situasi dan kondisi jama'ah memungkinkan, setelah mujahadah bilangan 7-17 supaya dimanfaatkan untuk pendalaman wahidyah (sholawat wahidiyah, ajaran wahidiyah, Ke PSW an, Dana Box), Pengajian Syari'ah tertutama untuk amaliah harian dan lain-lain dengan waktu yang benar-benar DIBATASI.

Bentuk pendalaman wahidiyah seperti pengisian kuliah Wahidiyah, pembacaan buku-buku wahidiyah terutama buku kuliah wahidiyah dan pengajian Al-Hikam,  musyawarah, diskusi, dan lain-lain agar para pengamal Wahidiyah tidak hanya sebagai pengamal yang ikut-ikutan saja, melainkan benar-benar terjadi.

6. Penutupan


Mujahadah Usbu"iya ditutup dengan pelaksanaan Nidak ke empat penjuru dan diteruskan dengan Tasyafu'an dan Istghotsah yang di lagukan.

Berikut bacaan nidak di masing-masing penjuru;
  • Al-Fatihah (1 kali)
  • Fafirru Ilallooh (3 kali)
  • Waqul Ja-al Haqqu.. ( 1 kali)

Diawali dengan menghadap ke arah barat (bukan arah kiblat) dan membaca urutan diatas, kemudian menghadap ke utara, timur, selatan. Selanjutnya menghadap seperti semula.

Bacaan Tasyafu' dan Istighotsah untuk mengadakan penghormatan kepada Rosulylloh dan Ghoutsu Hadzaz zaman.

Dengan Tasyafu' dan isthighotsah, disertai adab lahir dan batin sebaik-baiknya, merasa benar-benar di hadapan Rosululloh dan Ghoutsu Hadzaz Zaman.
  • Al-Fatihah ( 1 kali)
  • Ya Syafial Kholqis... (1 kali) dilagukan
  • Yaa Sayyidi Yaa Rosuulallooh 9 3 kali)
  • Yaa Ayyuhal Ghoutsu... (1 kali) dilagukan
  • Al-Fatihah (1 Kali)

Ucapan terakhir bagi yang memimpin pelaksanaan nidak. Denfan ucapan ALHAMDULILLAAHI ROBBIL 'AALAMIN, mujahadah Usbu'iyah telas selesai. Semua kekurangan dan kekhilafan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.